Dahsyatnya Lapar

11:43:00 PM



Oleh: Asep M Tamam Dosen UIN Bandung

sejak awal Ramadan 1431H mengungkap cerita menarik tentang beberapa atlet dunia yang berpuasa di bulan Ramadan. Penulis sangat tertarik dengan cerita-cerita itu meski bukan merupakan cerita baru dalam wacana kekuatan fisik di balik rasa lapar. Jauh-jauh hari para ulama telah menulis kisah-kisah nyata tentang hal serupa dan terjadi semenjak zaman Nabi Muhammad SAW hingga zaman modern ini.

Walau bukan hal baru, tapi apa yang dilakukan para atlet internasional itu menjadi konfirmasi betapa kuatnya pengaruh puasa dalam penguatan dimensi spiritual umat Islam. Lapar dalam berpuasa ternyata benar-benar telah menghadirkan dorongan dahsyat ke dalam fisik seorang muslim. Terbukti, Frederic Oumar Kanoute, pemain klub Sevilla asal Mali yang dikenal memliki religiousitas tinggi, dan berpuluh olahragawan top dunia yang disajikan Tribun Jabar ini bukan hanya membuktikan dahsyatnya kekuatan lapar, tapi juga telah menghidupkan syi'ar Islam dalam dunia olahraga.

Pertanyaan mendasar yang sering terlontar adalah: apakah mungkin rasa lapar bisa memberikan kekuatan pada fisik? Jawabannya tentu saja relatif. Apa yang dialami para atlet itu tentu bisa terjadi atau tidak akan terjadi pada orang lain. Berarti ada rahasia besar di balik kekuatan fisik orang-orang yang lapar berpuasa.

Rahasia besar tersebut kohesif dengan keimanan dan keyakinan. Kekuatan iman dan keyakinan seorang muslim akan hikmah puasa telah melegenda dan lekat dengan keajaiban-keajaiban. Iman dan keyakinan itu hadir dari unsur utama manusia, yaitu rohani atau spiritual. Rohani atau spiritual seringkali ditelantarkan dan dianggap sebagai suplemen dalam rumus kehidupan kita.

Kita sering menghitung rumus kehidupan itu pada wilayah kebendaan fisik semata. Ciri khas kehidupan dunia yang pragmatis dewasa ini memang mengasumsikan keteraihan segalanya dalam bentuk fisik inderawi sebagai definisi kebahagiaan. Tak heran, apa yang terpikir dalam lubuk para koruptor misanya, hanyalah dimensi duniawi berbentuk harta yang sebanyak-banyaknya. Kebahagiaan pun bagi mereka begitu dangkal, hanya menyentuh wilayah luar atau cangkang saja. Kini, dunia pendidikan hingga dunia keagamaan sudah tersentuh rumus kehidupan demikian hingga ke kedalamannya.

Apa yang terjadi dalam lintasan sejarah bulan Ramadan menggambarkan hal yang berbeda dari asumsi umat terhadap makna bahagia dalam kehidupan. Ramadan adalah bulan rohani di mana spiritual umat Islam -mestinya- mengalahkan, mengatasi dan menguasai jasmaninya yang cenderung memokuskan pencapaian unsur fisik materi. Apa yang diyakini Kanoute, Hakeem Olajuwon dan para atlet muslim lainnya membuktikan bahwa keyakinan akan makna lapar puasa menyimpan energi berkali lipat yang mendukung kekuatan fisik mereka.

Para sejarawan Islam mencatat, kemenangan-kemenangan terpenting umat Islam dalam merembeskan Islam ke seluruh pori-pori bumi terjadi pada bulan Ramadan. Pertanyaan di atas tentang kemungkinan berlipatnya kekuatan fsik di saat lapar telah terjawab jauh- jauh hari.

Perang Badar yang terjadi pada Ramadan tahun kedua Hijriyah adalah bukti pertama. Dilihat dari aspek jasmani, tdaklah mungkin tiga ratus orang muslim mengalahkan seribu orang pasukan kafir Mekkah. Peristiwa kunci lainnya adalah penaklukan mekah (futuh makah) yang terjadi tanggal 20 Ramadan tahun ke-delapan Hijriyah. Peristiwa maha penting itu membuka jalan persatuan negeri Hijaz dalam melebarkan sayap Islam ke luar wilayah.

Nyatanya, sejak peristiwa tersebut Islam menjadi hegemoni hingga mampu menjatuhkan dua kekaisaran adidaya waktu; Persia dan Romawi. Philip K Hitti dalam Islam and Politics menuturkan bahwa pada masa itu hanya ada satu hal yang bisa mengalahkan dua kekuatan penguasa dunia itu. Hal itu adalah "mimpi".

Peristiwa lain yang mewarnai perjalanan Ramadan dan tercatat dengan tinta emas, secara singkat adalah: peristiwa penghancura berhala 'uzza di tangan Khalid bin Walid pada Ramadan tahun kedelapan Hijriah.

Pada bulan Ramadan tahun kesembilan, kemenangan juga diraih Nabi dan para sahabat dalam perang Tabuk. Penaklukan Spanyol (Fath Andalusia) terjadi pada Ramadan tahun 91 H. Penaklukan itu membuat Islam berkuasa di Spanyol selama delapan abad. Di Spanyol juga, Perang Zallaqah di dekat Cordoba terjadi antara tentara Islam dengan kafirin Spanyol pada Ramadan tahun 479 H. Perang dahsyat yang dikomandani Yusuf bin Tasyfin itu dimenangkan pasukan muslimin.

Pada Ramadan tahun 658 H, kegemilangan perang 'Ain Jalut' dimenangkan umat Islam di Palestina. Pada pertempuran besar-besaran itu umat Islam, di bawah pimpinan Sultan Muzhafar Saifuddin al- Ma'zi mengalahkan pasukan Tatar dari Mongolia yang sebelumnya telah mengalahkan pasukan umat Islam di berbagai negara yang ditaklukkan pasukan Islam.

Terakhir, kemerdekaan Indonesia, 65 tahun yang lalu terjadi pada bulan Ramadan.
Peristiwa-peristiwa besar itu, jika dilihat dari rumus kita yang bertumpu pada dimensi fisik materi tentu tak mungkin bisa tersambung. Mana mungkin fisik lemah karena lapar bisa menghadirkan aksi di luar batas kemampuannya? Tapi itulah bukti yang tak terbantahkan. Maka pantas bila Prof DR dr H Dadang Hawari pernah menyatakan bahwa ketika jasmani penuh, maka rohani kosong dan ketika jasmani kosong, maka rohani akan penuh.

Iman dan keyakinan, itulah kata kunci bila kita berharap keajaiban demi keajaiban lapar berlaku untuk kita. Dengan iman dan keyakinan, umat Islam dari mulai anak kecil hingga dewasa, sejak zaman Nabi hingga hari ini telah mengikhlaskan diri menunaikan titah Ilahi. Semoga, Ramadan tahun ini mampu merubah orientasi rumus kebahagiaan dari nilai-nilai kebendaan menuju nilai-nilai spiritual, nilai rohani.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar