Kapitalisme Indonesia

11:30:00 PM



Oleh: Beni Setia

BILA hakekat teater itu panggung, di mana penulis naskah lakon serta sutradara menghadirkan aktor yang datang dan pergi mempertunjukkan cerita, maka panggung pertunjukan kapitalisme terbaik Indonesia justru bus.Tentunya bus ekonomi, ber-AC atau non-AC, di mana segala penjaja dan pengamen naik dan turun di sepanjang jalan, sehingga selama perjalanannya terjadi praktek dagang tak ada hentinya.

Kegiatan yang khas Indonesia, yang juga terjadi di kereta ekonomi dan bisnis--jarak pendek atau panjang. Bahkan terjadi pula di kaki lima dan trotoar jalan di dekat pasar dan pusat perdagangan kota--berukuran kecil, menengah dan metropolitan. Hal yang terkadang disembunyikan dalam idiom (sektor) informal kota. Tapi mau formal atau informal--selama tetap ditarik restribusi dan keamanan swasta--, yang sebenarnya terjadi adalah nafsu berdagang dengan tak mempedulikan hak penumpang dan pejalan kaki--bahkan yang agresif menyerbu privasi di ruang tamu.

Agresivitas yang meski belum sampai pada level eksplorasi keuntungan besar-besaran tapi semangatnya tetap mengeksploitasi konsumen--pihak yang tak hanya jadi penonton tapi dipaksa agar konsumtif. Buku, majalah dan koran, minuman, jajan dan makanan yang terasa proporsional di bus, mendadak diselingi produk alat dapur, lap, topi, alat cukur, sabuk, sandal, dan buku kecil Yassin. Atau pengamen dengan rujukan lagu pop Indonesia, nostalgia, kroncong, dangdut dan campursari--baik live sederhana gitar atau lengkap dengan perkusi, dan malahan karaoke bertenaga aki. Lalu diselingi oleh shalawat, bacaan surah pendek Qur'an, dan amplop sumbangan mesjid.

Tidak mengherankan kalau ada pembaca puisi dan orator budaya yang tiba-tiba pentas di bus, selain pertunjukan monologial ludruk atau ketoprak pendek. Semua jual jasa dan barang, menjadikan bus pasar dan penumpang bus calon konsumen potensial tanpa hak menolak--bahkan kernet dan kondekturpun tak berdaya. Alhasil ada teman fanatik naik bus tertentu ke Yogyakarta karena selalu ada sajian serial pengamen yang baginya jempolan, meski ia tak selalu royal berbagi receh. Dan di sepanjang jalan itu kita menonton pameran perniagaan primitif, pengkondisian untuk jadi konsumen tapi posisi bargaining sebagai penjaja di pinggir sekali--sangat marjinal.

Kondisi yang sebenarnya hanya membuat mereka jadi si subsistensi asal dapat receh buat makan dalam pertarungan keras selevel survival for the fitnest. Mereka tak pernah jadi the survivor, karena meski pentas pasar bermunculan, yang secuil itu--bus penuh berisi 52 penumpang--, tapi frekuensi agresivitas menjajanya selalu tinggi dan berganti-ganti. Dan tak heran kalau bus yang sama, dalam trayeksi 240 km, dijadikan pentas perdagangan oleh 100-125 penjaja dalam rentang 5 jam. Sebuah pasar sempit yang agresif diperebutkan, dan dengan potensi laba yang tingkatnya hanya receh--Rp 10 hingga Rp 25 per item.

Turbulensi pemasaran yang sayangnya tak menarik kajian sekolah pasca sarjana. Sebuah analisis lapangan yang menunjukkan kesejahteraan itu tidak berkaitan dengan angka GNP serta cadangan devisa nasional hasil ekspor yang terdistribusikan sangat pincang. Di Bandung trauma psikologi itu menggejala pada penulis di terminal Kebon Kalapa sekitar 30 tahun lalu. Saat seorang makelar trayek kalah bersaing, jadi penjaja tukar recehan bagi sopir, penjaja air mineral, penjaja kain lap, lantas si pengemis yang makin hari kondisi fisiknya makin anjlog. Fenomena pecundang di arena survival for the fitnest yang hanya kenal sang perkasa dan bahkan si raja tega.

Tapi siapakah yang mau melakukan aksi pemihakan yang mengutamakan fungsi pemberdayaan mereka tanpa takut mendapatkan cap kiri? Dan celakanya Negara dan rezim tak pernah mau peduli dengan praktek kapitalisme di level bus dan kaki lima, di mana mayoritas rakyat subsisten bertarung buat sekadar pulang ke rumah dengan ada modal makan keluarga esok. Dan kalau besok ia tidak bisa bertarung di pasar sempit dengan tehnik pemasaran agresif--tanpa berdasi seperti saleman door to door--, maka keluarga tak makan dan modal dipakai untuk biaya konsumsi, dan bisnis esok dimulai dengan pinjaman atau hanya jadi si penjaja dengan fee lebih kecil--karenanya kualitas gizi asupan keluarga menurun.

Negara hanya bikin gelembung GNP, surplus devisa, serta peningkatan ekspor. Kucuran ekonomi bagi rakyat hanya sampai taraf UKM tanpa direalisasikan ke sektor riil si penjaja berlaba receh di pasar kecil bus dan kaki lima yang diperebutkan secara agresif dalam frekuensi menggiriskan. Naik bus ke Bogor atau Ciamis dari Bandung, naik bus non-tol ke Serang atau Garut dari Jakarta, naik bus ke Madiun atau Semarang dari Yogya, naik bus ke Solo atau Jember dari Surabaya: terlihat sangat riil fenomena kapitalisme primitif Indonesia. Pemasaran histeristik yang pasrah dilakoni demi receh.

Tapi apa birokrat dan politikus yang punya jabatan strategik mau mengerti?

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar